BANYUWANGI – Kesehatan psikologis anak kini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya tuntutan akademik dan masifnya paparan teknologi digital. Para pakar menilai, kesehatan mental merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang anak yang sehat dan berkelanjutan di masa depan.

Dewan Pembina sekaligus praktisi Traumatic Healing LBH RENAKTA, Moch. Suluh, SE., C.H., CHT., CNLP, menegaskan bahwa anak-anak sering kali belum mampu mengungkapkan tekanan psikologis yang mereka alami secara verbal. Kondisi tersebut umumnya terlihat melalui perubahan perilaku sehari-hari.
“Anak tidak selalu bisa mengatakan apa yang ia rasakan. Orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda yang muncul dalam keseharian anak,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah langkah penting yang dapat dilakukan orang tua untuk menjaga stabilitas psikologis anak. Salah satunya adalah menciptakan lingkungan rumah yang aman dan suportif sebagai ruang komunikasi terbuka.
Orang tua dianjurkan meluangkan waktu khusus setiap hari untuk berbincang dengan anak tanpa gangguan gawai. Pendekatan ini dinilai efektif dalam membangun rasa aman serta kepercayaan anak kepada orang tua.
Selain itu, validasi emosi juga menjadi aspek krusial dalam kesehatan mental anak. Orang tua diimbau tidak menyepelekan perasaan anak, melainkan mengakui dan memahami emosi yang sedang dirasakan.
“Kalimat sederhana seperti ‘Ibu mengerti kamu sedang sedih’ dapat membantu anak mengenali dan mengelola emosinya sendiri,” jelasnya.
Pakar juga menyoroti pentingnya pembatasan penggunaan perangkat digital. Paparan media sosial yang berlebihan disebut berpotensi memicu kecemasan, tekanan sosial, hingga menurunkan rasa percaya diri anak. Penerapan jadwal screen time yang konsisten serta mendorong aktivitas fisik di luar ruangan menjadi solusi yang disarankan.
Di sisi lain, rutinitas harian yang teratur turut berperan dalam menjaga kesehatan mental anak. Struktur waktu yang jelas, mulai dari jam belajar, makan, hingga tidur, membantu anak merasa aman dan memiliki kendali terhadap lingkungannya.
Orang tua juga diminta mewaspadai sejumlah tanda bahaya atau red flags, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, perubahan pola tidur dan makan, penurunan prestasi akademik secara drastis, hingga ledakan emosi yang tidak terkendali.
“Anak yang tangguh secara mental bukan berarti tidak pernah sedih, tetapi mampu bangkit dari kesulitan karena merasa didukung oleh lingkungannya,” pungkas Moch. Suluh.
Ia menambahkan, menjaga kesehatan psikologis anak merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, serta kasih sayang tanpa syarat dari keluarga.














