Nusa Dua, Bali | Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Bali yang identik dengan pantai dan pura, kompleks Puja Mandala di Nusa Dua tetap menjadi oase spiritual yang sunyi. Tempat ini bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan juga persinggahan bagi mereka yang sedang dalam perjalanan. Salah satunya adalah Yusuf (43), seorang sopir Travel lintas Jawa Bali yang kerap menjalani rute antar kota antar provinsi.

Pada Rabu siang yang terik, Yusuf memutuskan untuk menepi dan beristirahat sejenak di area Puja Mandala. “Biasa lewat sini kalau antar tamu dari bandara ke hotel di Nusa Dua atau sebaliknya. Kalau lagi ada waktu dan badan sudah pegal, saya mampir. Suasana di sini tenang, jauh dari kebisingan jalan,” ujarnya sambil menyeruput kopi di warung kecil di seberang kompleks.
Namun, hari itu bukan sekadar istirahat biasa. Dengan masih mengenakan kaus seragam perusahaannya, Yusuf membersihkan diri dan berjalan menuju salah satu dari lima rumah ibadah yang berdampingan di Puja Mandala: Masjid Ibnu Batutah. Namanya diambil dari penjelajah Muslim legendaris abad ke-14, simbol keterbukaan dan silaturahmi antarbangsa.
“Sebagai sopir, jadwal ibadah sering bentrok dengan perjalanan. Kadang sholat di rest area, kadang di musholla kecil pinggir jalan. Berkesempatan sholat di masjid seindah dan sekondang ini, apalagi di tengah Bali, itu seperti hadiah,” tutur Yusuf dengan mata berbinar. Ia menggambarkan perpaduan arsitektur Timur Tengah dan sentuhan lokal yang megah namun meneduhkan. Kubah besar, kaligrafi yang indah, dan ruang sholat yang luas menjadi tempatnya meluruskan saf dan menenangkan batin sejenak dari kelelahan di balik kemudi.
“Yang paling berkesan, di sini saya bertemu dengan jamaah dari berbagai negara. Tadi ada turis dari Malaysia, ada keluarga dari Timur Tengah, juga pekerja dari Jawa seperti saya. Kami sholat berjamaah, sesama musafir. Rasanya persaudaraan itu nyata, tidak terhalang bahasa atau asal-usul,” tambahnya penuh syukur.
Pengalaman Yusuf mencerminkan salah satu fungsi utama Puja Mandala: sebagai simbol toleransi dan tempat singgah spiritual bagi semua orang. Kompleks ini, dengan Masjid, Gereja Katolik, Gereja Protestan, Pura, dan Vihara yang berdiri berdampingan, adalah monumen hidup kerukunan umat beragama di Bali.

“Setelah sholat dan berdoa, badan terasa lebih ringan, pikiran lebih jernih. Rasanya siap lagi untuk membawa tamu-tamu dengan hati yang lebih lapang. Ini pengingat bahwa di mana pun kita, dan sesibuk apapun pekerjaan, selalu ada tempat untuk kembali kepada-Nya,” pungkas Yusuf sebelum kembali menuju mobil travelnya, siap melanjutkan perjalanan mengarungi jalanan Pulau Dewata.
Keberadaan Puja Mandala, dan cerita-cerita singkat seperti milik Yusuf, membuktikan bahwa Bali tidak hanya menawarkan keindahan duniawi, tetapi juga ruang bagi kedamaian batin bagi setiap pelintas, terlebih bagi mereka yang menghabiskan hari-hari di atas roda.


















