Banyuwangi, 13 Januari 2026 – Banyuwangi Kehilangan salah satu suaranya yang paling bersahaja, namun penuh makna. Kabar meninggalnya Bagus Abu Bakar pada 29 Desember 2025 akibat sakit jantung, menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi kawan seprofesi, para buruh migran, serta masyarakat yang pernah merasakan dampak karya dan pengabdiannya.
Bagus bukanlah sekadar nama di kolom redaksi. Dia adalah representasi dari jurnalisme yang hidup dan bernapas bersama denyut nadi masyarakatnya. Lahir dan dibesarkan di Banyuwangi, karirnya yang membentang puluhan tahun membuktikan komitmennya untuk mengabdi pada tanah kelahirannya. Puncak karir jurnalistiknya sebagai Pimpinan Redaksi liputanterkini.co.id adalah bukti dedikasi dan kompetensi yang diakui. Namun, di balik gelar formal itu, esensi Bagus justru terletak pada apa yang dilakukannya di luar ruang redaksi.
Di mata publik, Bagus Abu Bakar adalah contoh langka di mana pena seorang jurnalis tidak berhenti pada pemberitaan, tetapi melangkah lebih jauh ke dalam aksi nyata. Organisasi dan yayasan sosial yang didirikannya, seperti Trisula 88 dan terutama LBH RENAKTA, adalah perpanjangan langsung dari keprihatinan jurnalistiknya. Jika tugas media adalah menyoroti ketidakadilan—seperti persoalan yang dihadapi Buruh Migran (BMI) dan kelompok rentan seperti perempuan dan anak—maka Bagus memilih untuk turun tangan langsung memberikan pertolongan hukum dan advokasi. LBH RENAKTA yang masih berjalan hingga kini adalah monumen hidup dari kesadarannya bahwa pemberitaan saja kerap tidak cukup; yang dibutuhkan adalah pendampingan dan pembelaan yang konkret.

Inilah yang membuat kepergiannya terasa begitu personal bagi banyak kalangan. Bagi para BMI dan keluarganya, Bagus adalah “saudara” yang memperjuangkan hak-hak mereka yang sering terabaikan. Bagi rekan-rekan jurnalis, dia adalah teladan bahwa integritas dan empati bisa menyatu, bahwa profesi kita bisa menjadi jembatan untuk menciptakan perubahan sosial yang nyata. Bagus menunjukkan bahwa jurnalis boleh—dan bahkan seharusnya—memiliki hati yang berpihak pada yang lemah, tanpa kehilangan prinsip independensi dan kebenaran dalam pemberitaan.
Kematiannya di penghujung tahun 2025 terasa seperti sebuah akhir yang tertutup untuk sebuah bab penting di Banyuwangi. Namun, warisannya tidak boleh padam. Liputanterkini.co.id kehilangan seorang pemimpin redaksi yang bijak, tetapi dunia sosial Banyuwangi kehilangan seorang pejuang yang langka.
Kepergian Bagus Abu Bakar mengingatkan kita pada satu hal: nilai seorang manusia diukur dari seberapa dalam jejaknya bagi sesama. Bagus meninggalkan jejak yang dalam melalui tulisan-tulisannya yang tajam, melalui lembaga advokasi yang didirikannya, dan melalui ribuan senyum lega dari mereka yang terbantu.
Semoga langkahnya menginspirasi generasi muda Banyuwangi, baik di dunia jurnalistik maupun sosial, untuk melanjutkan perjuangannya. Selamat jalan, Bagus. Pena Anda mungkin telah berhenti menulis, tetapi cerita tentang pengabdian Anda akan terus dikisahkan oleh angin dari Selat Bali dan oleh mereka yang merasakan kehangatan baktimu. Banyuwangi berduka, namun juga bangga telah melahirkan seorang putra terbaik seperti Anda.
(Red).


















