BANYUWANGI – liputanterkini.co.id | Tokoh muda Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, Agus Moh Rouf Mannan Yunus atau yang akrab disapa Gus Roup, kembali mencuri perhatian warga dengan partisipasinya yang penuh semangat dalam Kirab Budaya Sarimulyo 2025. Dalam momen hari jadi Desa Sarimulyo dan peringatan HUT RI ke-79 tersebut, Gus Roup membawa serta soundsystem raksasa Brajamusti ke tengah-tengah parade budaya, menciptakan suasana yang semarak sekaligus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Dikenal sebagai sosok yang aktif di bidang sosial dan keagamaan, Gus Roup tidak hanya hadir sebagai penonton, tetapi menjadi motor penggerak kolaborasi antara nilai-nilai tradisional dengan teknologi modern. Bagi Gus Roup, melestarikan budaya bukan berarti menolak inovasi, melainkan menyelaraskannya dengan cara yang tepat.
“Budaya itu bukan milik masa lalu saja. Ia harus terus dirayakan agar tetap hidup dan relevan. Kehadiran sound seperti Brajamusti ini bukan untuk menutupi nilai budaya, tapi justru untuk menarik minat generasi muda agar terlibat,” ungkap Gus Roup.
Pengasuh SAYAB (Santri Almannansalafiyah Banyuwangi) itu menegaskan bahwa parade budaya modern harus menjadi ruang yang inklusif. Ia percaya bahwa dengan sentuhan kreatif, panggung budaya bisa menjadi tempat edukatif yang membentuk karakter generasi masa depan.
“Saya ingin anak-anak muda bangga terhadap desanya, terhadap budaya mereka sendiri. Kirab seperti ini harus bisa menghibur sekaligus mendidik. Maka, saya usulkan ke depan, parade sound juga bisa menyisipkan pesan moral, sejarah desa, atau nasihat-nasihat kebudayaan,” tutur pria yang dekat dengan kalangan muda dan santri tersebut.
Partisipasi Gus Roup disambut antusias oleh masyarakat. Suara gemuruh Brajamusti yang dipadukan dengan semangat pelaku seni desa, menjadi simbol kebersamaan dan energi baru dalam pelestarian budaya. Aksi ini sekaligus menunjukkan bahwa ketika tokoh masyarakat turun langsung ke lapangan, semangat warga pun ikut menyala.
Bagi Gus Roup, acara seperti kirab budaya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum membangun kesadaran kolektif: bahwa budaya adalah identitas, dan identitas harus dijaga bersama.
“Kirab ini adalah cermin kekuatan masyarakat. Saya bangga bisa berkontribusi. Semoga ke depan, kolaborasi seperti ini terus tumbuh, dan desa kita menjadi contoh bahwa tradisi dan teknologi bisa berjalan seiring,” pungkasnya.
Kirab Budaya Sarimulyo tahun ini menjadi bukti bahwa ketika budaya dipeluk dengan semangat kolaboratif, dan teknologi dijadikan sahabat, maka yang lahir bukan sekadar pertunjukan melainkan kebanggaan dan harapan bersama.
(IRA)


















