Scroll untuk baca artikel
Aldy Travel Banyuwangi Bali Banner
Example floating
Example floating
ADVERTISEMENT
Unggulan

Rupiah Terpuruk ke Rp17.662, Pemerintah Diminta Waspadai ‘External Shock’

7
×

Rupiah Terpuruk ke Rp17.662, Pemerintah Diminta Waspadai ‘External Shock’

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072
ADVERTISEMENT

Banyuwangi — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan tren pelemahan hingga menyentuh level Rp17.662,85 pada perdagangan hari ini. Posisi ini mencatatkan rekor terendah baru dalam sejarah kontemporer perekonomian domestik.

Akademisi sekaligus Pengamat Ekonomi dari STAIDU Banyuwangi, Fajar Isnaeni, menilai situasi ini sudah memasuki fase krusial. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak meremehkan sentimen negatif yang sedang berkembang di pasar global.

Box Iklan
ADVERTISEMENT
Box Iklan Banner
Lanjut Membaca

“Posisi Indonesia saat ini sudah terintegrasi penuh dengan sistem ekonomi global. Jika tidak ada langkah strategis, dampak pelemahan kurs ini akan mentransmisikan tekanan ekonomi langsung ke masyarakat bawah secara cepat,” ujar Fajar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/5).

Polarisasi Global dan Risiko Inflasi

Menurut Fajar, keterpurukan mata uang Garuda dipicu oleh rentetan guncangan eksternal (external shock). Faktor utamanya meliputi eskalasi konflik di Timur Tengah, kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) yang bertahan lama, serta fragmentasi ekonomi global.

Ia juga menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pidato sebelumnya yang cenderung melandai dan tidak mengkhawatirkan penguatan dolar AS. Menurut Fajar, dari kacamata akademis, kondisi ini sudah melampaui batas peringatan dini (early warning).

“Kenaikan dolar ini menjadi katalis bergerak naiknya harga komoditas impor. Bahan baku pupuk, BBM, komponen elektronik, hingga alat rumah tangga yang bersumber dari luar negeri akan terdampak signifikan. Artinya, masyarakat di pedesaan pun tidak akan luput dari imbasnya,” kata Sekretaris PC ISNU Banyuwangi tersebut.

Komunikasi Publik dan Efek Domino

Fajar menggarisbawahi pentingnya stabilitas komunikasi dari para pembuat kebijakan di ruang publik. Mengutip filosofi Jawa “Sabdo Pandito Ratu”, ia mengingatkan bahwa setiap pernyataan dari pemimpin negara memiliki bobot besar yang dapat memengaruhi psikologi pasar.

“Dalam kondisi perekonomian yang penuh ketidakpastian, pejabat publik harus berkomunikasi dengan lebih elegan dan berbasis data. Pernyataan yang asal-asalan justru berisiko menciptakan efek domino negatif pada sektor riil,” jelas Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi tersebut.

Jika fluktuasi ini terus dibiarkan tanpa adanya intervensi dan pemberian stimulus ekonomi yang tepat, Fajar memproyeksikan terjadinya pembengkakan biaya produksi di sektor industri. Hal tersebut berpotensi memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mengerek angka inflasi, dan berujung pada penurunan daya beli masyarakat secara makro.

ADVERTISEMENT
Box Iklan Banner
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş |