Scroll untuk baca artikel
Aldy Travel Banyuwangi Bali Banner
Example floating
Example floating
ADVERTISEMENT
BeritaNasional

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncak Terjadi Agustus

11
×

BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Awal, Puncak Terjadi Agustus

Sebarkan artikel ini
ADVERTISEMENT

Jakarta, 4 Maret 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan datang lebih awal dibandingkan rerata klimatologinya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan berpotensi berlangsung lebih kering serta lebih panjang dari kondisi normal.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa perubahan pola iklim global menjadi faktor utama percepatan musim kemarau tahun ini. Fenomena La Niña Lemah yang berakhir pada Februari 2026 kini telah bergeser ke fase Netral dengan indeks ENSO berada di angka -0,28.

Box Iklan
ADVERTISEMENT
Box Iklan Banner
Lanjut Membaca

“Pemantauan menunjukkan kondisi Netral diprediksi bertahan hingga Juni 2026. Namun peluang munculnya El Niño kategori Lemah hingga Moderat pada semester kedua tahun ini mencapai 50–60 persen,” ujar Faisal dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3).

Sementara itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diprakirakan tetap berada pada fase Netral sepanjang tahun.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa peralihan Angin Baratan (Monsun Asia) menjadi Angin Timuran (Monsun Australia) menjadi indikator dimulainya musim kemarau.

Sebanyak 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), serta sebagian kecil Kalimantan dan Sulawesi.

Kemudian, 184 ZOM (26,3 persen) menyusul pada Mei dan 163 ZOM (23,3 persen) pada Juni 2026.

Dari total wilayah tersebut:

* 325 ZOM (46,5 persen) mengalami awal kemarau lebih maju dari normal,

* 173 ZOM (24,7 persen) sama dengan normal,

* 72 ZOM (10,3 persen) mengalami kemarau mundur.

Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.

BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di 429 ZOM atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia terjadi pada Agustus 2026.

Sebagian wilayah lain akan mengalami puncak kemarau pada:

Juli (12,6 persen), meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan tengah dan utara, serta sebagian kecil Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua barat.

September (14,3 persen), mencakup sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Sulawesi utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, Maluku, serta sebagian Papua.

BMKG memperkirakan sifat musim kemarau 2026 didominasi kondisi Bawah Normal atau lebih kering dari biasanya di 451 ZOM (64,5 persen). Sebanyak 245 ZOM (35,1 persen) diprediksi Normal, dan hanya 3 ZOM (0,4 persen) di wilayah Gorontalo serta Sulawesi Tenggara yang berpotensi mengalami kemarau Atas Normal atau lebih basah.

“Durasi musim kemarau di 57,2 persen wilayah Indonesia diprediksi lebih panjang dari biasanya,” kata Faisal.

BMKG mengingatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk segera melakukan langkah antisipasi.

Di sektor pertanian, petani diminta menyesuaikan jadwal tanam dengan memilih varietas tahan kekeringan dan hemat air. Sektor sumber daya air juga didorong memperkuat revitalisasi waduk dan memperbaiki jaringan distribusi guna menjamin pasokan air bersih dan operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Selain itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak penurunan kualitas udara.

“Seluruh informasi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” tegas Faisal.

ADVERTISEMENT
Box Iklan Banner
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LBH RENAKTA
● Admin Online

Konsultasikan masalah hukum Anda secara cepat & rahasia.

💬 Chat WhatsApp Sekarang