BANYUWANGI, Liputan Terkini – Buntut adanya penutupan lokasi galian C diduga tak berizin oleh Petugas Gabungan Polresta Banyuwangi belum lama ini, ratusan armada dari komunitas pengusaha galian C bersiap-siap hendak turun ke jalan padati kota Banyuwangi. Pasalnya tuntutan mereka tak di kabulkan oleh Pemda Banyuwangi.
Kabar tersebut, di Sampaikan Jos Rudy, Ketua Aspamin, Koralwangi dan Gabpeksi usai menghadiri undangan Pemda Banyuwangi dalam pembahasan terkait masalah tambang galian C paska adanya penutupan lokasi oleh petugas gabungan. Bertempat di kantor Pemerintah Daerah Banyuwangi. Senin (26/12/2022).
Hadir dalam pertemuan saat itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani AN di wakili Sekretaris Daerah Kab. Banyuwangi, Drs. Dwiyanto., Wakasat Reskrim Polresta Banyuwangi, Iptu Badrudin Hidayat., Kepala Kesbangpol Banyuwangi, Mohamad Lutfi., perwakilan ormas/LSM, beberapa awak media, dan seluruh pengusaha tambang galian C yang di wakili pengurus beberapa komunitas tambang., perwakilan buruh harian., serta perwakilan komunitas Armada se Banyuwangi.
Dalam pertemuan tersebut, Sekda Banyuwangi menyampaikan “Terkait tuntutan para pengusaha tambang, agar tambang segera dibuka lagi pasca adanya penutupan dan penertiban, belum dapat di kabulkan, karena harus menunggu keputusan dari pimpinan tertinggi yang berwenang. Dan kewenangan itu bukan dari Pemda Banyuwangi, Kapasitas Pemda hanya melakukan pendampingan kepengurusan perijinan sampai tuntas”, terang Dwi.
Sementara Ketua Asosiasi Pengusaha Tambang Mineral (ASPAMIN), Komunitas Armada dan Material Banyuwangi (KORALWANGI) serta Gabungan Perusahaan Kontruksi Indonesia (GABPEKSI), Jos Rudy, menyampaikan “Dalam pertemuan tadi, Pemerintah Daerah Banyuwangi intinya tidak bisa mengabulkan tuntutan kami agar lokasi tambang bisa di buka kembali yang selanjutnya meminta pendampingan proses perizinan”, tegas Jos Rudy.
Mengingat belum dikabulkannya permintaan kami, maka hari Rabu (28/12/2022) atas kesepakatan bersama Ratusan Massa ASPAMIN, KORALWANGI dan GABPEKSI serta di dukung komunitas yang lain terpaksa akan melakukan aksi damai turun ke jalan untuk nagih janji Tim Terpadu percepatan proses perijinan, tambahnya.
Untuk di ketahui, adanya penutupan lokasi galian C di Banyuwangi menyisakan masalah baru di kalangan pengusaha tambang, armada dan juga para buruh harian. Ratusan orang dari mereka tak bisa lagi bekerja, bagaimana mereka harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, bagaimana juga mereka harus membayar cicilan armada setiap bulannya, sementara biaya hidup dan biaya untuk sekolah anak-anaknya cukup mahal, dan semua itu bergantung pada aktivitas tambang.*
(Ynt)



















