Banyuwangi | Di tengah kesibukan mengurus warga, memimpin gotong royong, hingga menjadi penengah berbagai persoalan sosial di lingkungan RW 7 Kampung Kopen Lumbar, Desa Kebaman, Kecamatan Srono, Kabupaten Banyuwangi, terselip sebuah kabar yang membawa haru dan kebanggaan.

Sugianto (53), Ketua RW 7 yang sehari-hari juga bekerja sebagai sopir angkutan barang, sosok yang selama ini dikenal dekat dengan masyarakat, tengah memenuhi panggilan Allah SWT untuk menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci. Saat ini, ia telah memasuki hari keempat menjalankan rangkaian ibadah di Mekkah dan Madinah.
Bagi sebagian orang, umroh mungkin sekadar perjalanan ibadah. Namun bagi seorang pemimpin lingkungan yang juga mencari nafkah sebagai sopir barang—menempuh perjalanan jauh demi keluarga—ibadah ini menjadi perjalanan spiritual yang sarat makna. Bukan hanya tentang keberangkatan fisik menuju Mekkah dan Madinah, melainkan juga perjalanan batin, refleksi diri, dan peningkatan kualitas keimanan.
Sebagai Ketua RW 7, Sugianto bukan hanya administrator wilayah. Ia adalah figur yang menggerakkan gotong royong, menginisiasi kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, serta mengajak warga menjaga kebersamaan dan nilai-nilai sosial. Sementara di sisi lain, profesinya sebagai sopir barang menggambarkan kesederhanaan dan kerja kerasnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dedikasi inilah yang membuat kabar keberangkatan umrohnya terasa istimewa bagi warga.
Di kampung seperti Kopen Lumbar, nilai kebersamaan masih sangat kental. Ketika satu warga mendapat kesempatan ibadah ke Tanah Suci, kebahagiaan itu terasa kolektif. Apalagi jika yang berangkat adalah seorang tokoh masyarakat yang selama ini menjadi panutan dan penggerak lingkungan.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa jabatan dan profesi apa pun bukanlah penghalang untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Justru, bisa jadi ketulusan dalam bekerja dan mengabdi menjadi salah satu jalan dibukanya pintu rezeki serta kesempatan ibadah.
Umroh bukan hanya tentang thawaf mengelilingi Ka’bah atau sa’i antara Shafa dan Marwah. Ia adalah simbol kerendahan hati di hadapan Allah, pelepasan kesombongan duniawi, serta penguatan komitmen untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Masyarakat tentu berharap, sepulang dari Tanah Suci nanti, sang Ketua RW membawa semangat baru—bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi lingkungan yang dipimpinnya
Kisah ini menjadi refleksi bahwa di balik kehidupan sederhana di sebuah kampung di Banyuwangi, tersimpan cerita-cerita spiritual yang menginspirasi. Panggilan umroh adalah kehormatan, sekaligus amanah moral untuk menjadi lebih baik.
Semoga perjalanan ibadah Sugianto yang kini telah memasuki hari keempat di Tanah Suci diberikan kelancaran, kesehatan, serta keselamatan hingga kembali ke tanah air. Dan semoga keberkahan yang dibawa pulang kelak turut menyinari Kampung Kopen Lumbar, Desa Kebaman, Kecamatan Srono.
Karena pada akhirnya, setiap panggilan ke Tanah Suci adalah tentang cinta—cinta seorang hamba kepada Tuhannya.***
















