BANGKALAN – liputanterkini.co.id – Pembangunan perdesaan mutlak dilakukan mengingat desa merupakan kawasan dominan dan menjadi kantong kemiskinan di Indonesia. Meski demikian pembangunan tak boleh dilakukan serampangan tanpa memperhatikan keberlanjutan (Sustainability).
Melihat kondisi tersebut Pogram Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (AGB-UTM) menggandeng Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Komisariat Daerah Bangkalan (Perhepi Komda Bangkalan) menggelar sebuah event internasional. Perhelatan yang digelar pada (8/11) di Hotel Grand Dafam Surabaya mengambil tajuk International Conference on Sustainable Agribusiness, Community, Economic and Rural Agriculture (Ico-SACERA).
Gelaran berupaya menyadarkan bahwa sustainability dengan sinergi aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan ternyata makin diperhitungkan dalam pengembangan berbagai sektor. Tak pelak, hal ini mengharuskan para akademisi responsif dan ikut berperan.
Guna memberikan masukan mendalam dan komprehensif diundanglah Dr. Raquel M. Balanay dari Caraga State University Philippines, Associate Prof. Abdul Razak bin Salleh dari University College Bestari (UCB) Malaysia, Prof Bustanul Arifin dari Universitas Lampung sekaligus Ketua Umum Perhepi Pusat serta Dr Ihsannudin dari AGB-UTM. Acara spektakuler ini dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai kota di Indonesia dan dari luar negeri. Dalam kesempatan pembukaan, Elys Fauziyah selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Pertanian UTM menyatakan bahwa kegiatan semacam ini sangat produktif sebagai ajang diskusi lintas ilmu dari berbagai kalangan,. “Universitas Trunojoyo dengan visi pembangunan lahan kering dan pesisir sangat berkepentingan dalam sustainabilitas kawasan” jelasnya.
Gayung bersambut, prolog Fauziyah didukung dengan masukan Dr. Raquel dari aspek pentingnya Sustainable Marketing dan Rural Development. “Dalam perwujudannya konsep hand-in hand antara agribusiness and entrepreneurship harus diterapkan” timpal Prof Razak. Pemaparan tersebut menjadi pengejut bahwa pembangunan perdesaan di Madura tak boleh menafikan geliat wirausaha bidang agribisnis.
Lebih lanjut dalam perspektif nasional diungkapkan melalui structural transformation, produktivitas versus tantangan sustainability, serta policy strategies oleh Prof. Busnatul. Dan ternyata, Madura telah mampu menjawab tantangan tersebut dengan contoh pembangunan perdesaan dengan isu pelestarian kakatua di Pulau Masakambing. “Pelestarian kakatua di Pulau Masakambing terbukti menjadi isu penting tumbuhnya berbagai program pembangunan bagi masyarakat pedesaan” papar Ihsannudin.
Masukan yang disampaikan para pemateri selaras dengan poin-poin tujuan Sustainable Development Goals (SDG) yang telah diratifikasi Indonesia dalam menjalankan konsep pembangunan. Setiani, selaku ketua penyelenggara menegaskan bahwa memang kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan dan kompetensi berdasarkan isu pembangunan pertanian dan perkembangan SDGs. Dalam upaya mewujudkan hal ini berbagai pihak siap memberikan dukungan, Perhepi Komda Bangkalan salah satunya. “Kerjasama intra dan antar lembaga baik dalam negeri maupun luar negeri perlu dijaga guna kemajuan bersama, utamanya terkait sustainable development” tutup ketua PERHEPI Komda Bangkalan, Andrie Kisroh Sunyigono.
(Aang)














