BANYUWANGI, Liputan Terkini –
Kelangkaan pupuk urea di musim tanam saat ini, menjadi keresahan para petani yang berada di kecamatan Tegaldlimo. Di Banyuwangi, wilayah Tegaldlimo musim tanam lebih awal di banding wilayah lain, sehingga stok pupuk urea menjadi sangat penting bagi para petani yang baru memulai tanam.
Tak pelak, keresahan para petani tersebut, di curahkan kepada Camat Tegaldlimo guna mencari solusinya dengan beramai-ramai mendatangi kantor Camat Tegaldlimo pada Kamis (15/12/2022).
Hal itu di kuatkan penjelasan Helmi Wahyudi, salah satu petani saat di konfirmasi Liputan Terkini. Ia membenarkan bahwa para petani Tegaldlimo untuk saat ini memang lagi susah untuk mendapatkan pupuk urea, saat ini lagi musim tanam padi yang harus di pupuk pakai urea sebagai siklus kesuburan lahan. Hal ini kalau tidak cepat tertangani dampaknya tanaman yang baru di tanam, akan mengering, tegas Helmi.
Massa petani kemarin mendatangi kantor Camat untuk menyampaikan keluhannya dengan harapan mendapatkan solusi tentang kelangkaan pupuk urea. Kedatangan kelompok tani bersama massa tujuannya mencari jawaban masalah pupuk agar bisa tercukupi khususnya pupuk bersubsidi, pungkas Helmi.
Menanggapi hal itu, Camat Tegaldlimo, Mujiono saat di temui di ruang kerjanya, mengatakan “Kelangkaan pupuk ini adalah masalah kita bersama, selain petani, kami juga ikut merasakan dampak kelangkaan pupuk tersebut. Memang sekarang lagi musim tanam karena lebih awal untuk wilayah Tegaldlimo, para petani 80 % sudah melakukan tanam, kalau bibit padi sudah di tanam, dalam usia 10 sampai 15 hari para petani akan melakukan pemupukan tanaman yang sudah di tanam, ungkap Camat. Jum’at (16/12/2022).
Untuk masalah kelangkaan pupuk ini insya’ allah Minggu depan akan terealisasi dari alokasi pupuk di tahun 2023, mudah-mudahan Minggu depan atau selambat- lambatnya akhir tahun 2022 pupuk pestisida bisa terealisasi, karena sudah berkoordinasi dengan pihak Dinas Pertanian dan SK Bupati sudah di tanda tangani tinggal nunggu realisasi, tambahnya.
Kami sangat berharap kepada masyarakat, ketika ada kelangkaan pupuk bisa mencoba mencari solusi dengan pupuk alternatif atau pupuk organik, karena pupuk organik ini sudah dibuktikan hasilnya oleh masyarakat petani yang menanam bibit jagung dan Lombok. Jadi tanpa menggunakan pupuk kimia sudah bisa menghasilkan panen.
Pupuk organik buatan sendiri dari akar-akaran tanaman pisang, bambu atau kotoran ternak bisa di proses dengan cara fermentasi jadi pupuk organik, menurut kami memang perlu edukasi kepada warga untuk mensosialisasikan kepada petani bila ada problem seperti ini lagi, tutup Camat.**
(Ynt)
















