BONDOWOSO, Liputan Terkini – Beberapa waktu yang lalu, saya bersyukur bisa bersilaturahmi dengan Kapolres Bondowoso, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Wimboko. Lebih dari satu jam lamanya saya menemani beliau.
Pada kesempatan itu saya berusaha menjadi pendengar yang baik. Karena dari awal, saya memang ingin menimba pengetahuan dari pria kelahiran Jambi tersebut.
Banyak hal yang dibagikan Pak Kapolres. Mulai dari hal-hal yang serius berkaitan dengan tupoksi sebagai Kapolres, hingga hal-hal yang cukup personal. Termasuk pengalaman kepengasuhan orang tua (parenting) yang dialaminya ketika kecil.
Saat berkisah tentang cara ayahnya mengasuh, ada satu frasa yang cukup menarik perhatian saya. Saya menangkapnya sebagai sebuah falsafat parenting lebih tepatnya. “Jangan jadi anak pemberani, jadilah anak penakut” begitu pesan sang ayah untuk Wimboko kecil kala itu. Hemat saya frasa ini menarik.
Saat beberapa orang tua meminta anaknya menjadi pemberani, falsafat ini “seolah” mendorong sebaliknya. Tentu siapapun yang mendengar pertama kali frasa tersebut, akan meresponnya dengan tanda tanya. Itu juga respon Wimboko kala itu.
Sang ayah lantas menjelaskan alasan melarangnya jadi anak pemberani ketika kecil. Salah satunya, sang ayah tidak ingin dia terlibat perkelahian. Alasan yang tampak sederhana. Namun saya membacanya penuh makna.
Saat terlibat perkelahian, hanya ada dua kemungkinan. Menang atau kalah. Keduanya sama-sama tidak memberi keuntungan. “Jika kamu kalah, selain harus merawatmu, aku akan bersedih melihatmu terluka” begitu alasan sang ayah saat itu.
Menjauhi perkelahian mungkin memang menjadi pesan utama sang ayah. Selain alasan di atas, sang ayah meyakinkan Wimboko untuk menjauhi perkelahian dengan-alasan lain.
Pertama, anak yang suka berkelahi biasanya punya jaringan pertemanan yang luas. Bagi anak kecil, membangun jaringan luas belum menjadi kebutuhan. Bahkan, lingkaran pertemanan tersebut hanya akan memecah konsentrasi belajar. Kedua, perkelahian hanya akan menyisakan luka, fisik dan psikis. “Kamu ini dikaruniai fisik dan otak yang baik, jangan sampai rusak oleh perkelahian” begitu sang ayah memberi alasan yang lebih mendalam.
Takut yang Tepat
Falsafat “jangan jadi anak pemberani, jadilah anak penakut”, seperti sebuah gelitikan untuk mendudukkan takut pada porsi yang semestinya. Rasa takut adalah emosi dasar manusia. Setiap orang memerlukannya, apalagi anak-anak.
Secara psikologis, emosi berada dalam otak korteks yang bekerja menangkap sinyal-sinyal eksternal yang perlu diwaspadai. Sinyal ini ditangkap oleh sistem saraf (nervous system) yang menstimulasi respon fisik. Bagi anak-anak, rasa takut ini perlu agar mereka bisa belajar meresponnya dengan cara yang benar.
Jika rasa takut kepada situasi berbahaya dianggap anomali, justru potensi respon yang muncul bisa lebih berbahaya. Saat ada hewan buas, rasa takut perlu dibangun agar anak-anak belajar merespon dengan cara yang patut. Jika keberanian semata yang diperkenalkan, sama halnya kita memgajarkan anak-anak menjadi mangsa sang predator.
Takut tidak selalu buruk bagi anak-anak. Justru karena dari takut anak-anak belajar. Dari rasa takut, anak-anak menjadi waspada (cautious). Seperti emosi manusia pada umumnya, takut adalah fungsional pada situasi tertentu. Akan halnya keberanian juga fungsional pada situasi yang tepat.
Pada usia anak-anak, rasa takut perlu diperkenalkan, tidak untuk menjadikan anak-anak pengecut, tetapi mengajarinya memberikan respon yang tepat.
Kata orang bijak, fearlessness isn’t what we need; a set of right fears is, ketakutan bukan yang kita butuhkan, tetapi seperangkat rasa takut yang tepat itulah kebutuhan kita. Falsafat parenting yang diterapkan ayah Kapolres sejatinya adalah pribumisasi dari falsafat tersebut.
Rasa takut yang diperkenalkan kepada anak-anak mengenai situasi tertentu adalah the right fear, takut yang tepat. Pada usia mereka, rasa takut penting. Sementara rasa berani yang berlebihan tidak selalu menguntungkan. Ibarat pistol, yang anak-anak perlukan adalah pistol mainan, bukan pistol sungguhan.
Belajar dari pengalaman masa kecil Kapolres, rasa takut yang benar itu ternyata memang berguna. Apakah rasa takut kemudian membuat seseorang jadi penakut dan pengecut saat dewasa? Falsafat takut ampuh membuat Wimboko tidak pernah terlibat perkelahian di masa kecil. Namun, soal keberanian, kapasitasnya sebagai Kapolres sudah cukup menjadi jawaban bahwa keberanian tidak ada hubungannya dengan rasa takut yang dibangun dalam diri seseorang. Karena sekali lagi, mengenal rasa takut bagi anak-anak adalah takut yang benar.
Menempatkan rasa takut secara tepat adalah cara bijak yang bisa dilakukan untuk memastikan orang tua menjaga anak Menjaga anak sebagai amanah adalah dasar sang ayah untuk memperkenalkan rasa takut dan berani secara benar. Dengan cara itu, potensi seorang anak terlibat kontak fisik dapat ditekan sebagaimana yang dialami Kapolres. Saat perkelahian terhindarkan, maka potensi luka fisik dan psikis juga bisa dihindarkan.
Lebih penting lagi, falsafat parenting ‘jangan jadi anak pemberani’ memberikan pejalaran mendalam, bahwa menyelesaikan persoalan dengan kerja otak harus lebih diutamakan daripada kerja otot. “Buatlah orang segan karena otakmu, bukan ototmu” begitu pesan sang ayah kepada Kapolres yang sekaligus juga menjadi kalam penutup pada kesempatan bincang santai tersebut. Sayapun pamit beranjak pulang kepada Kapolres, sambil terus mengulang-ulang falsafat “jangan jadi anak pemberani, jadilah anak penakut” (*)



















